web analytics
Top banner bank bjb
Tarif Tol Soroja Dinilai Mahal, Ini Penjelasan CMLJ
Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada 25 Dec, 2017 | 17:48 WIB
Tarif Tol Soroja Dinilai Mahal, Ini Penjelasan CMLJ
Sejumlah kendaraan memasuki gerbang Tol Soreang, Kabupaten Bandung. (AyoBandung/Eneng Reni)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Usai PT Citra Marga Lintas Jabar alias CMLJ membeberkan tarif Tol Soreang-Pasirkoja atau Soroja, sejumlah warga malah mengeluh. Pasalnya, sebagian besar warga menganggap jika tarif yang telah ditentukan terbilang mahal. Apalagi kini jalan tol sepanjang 15 kilometer itu digunakan sebagai jalur harian.

Sebagaimana diketahui, tarif tersebut telah diberlakukan dan diatur oleh Menteri PUPR, M. Basuki Hadimuljono, melalui keputusan Menteri PUPR nomor: 1010/KPTS/M/2017 tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor dan Besaran Tarif Tol pada Jalan Tol Soreang – Pasirkoja tanggal 8 Desember 2017. Golongan I Rp 7.000, golongan II Rp 10.500, golongan III Rp 14.000, golongan IV Rp 17.500, dan golongan V Rp 21.000.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama PT CMLJ, Bagus Medi Suarso mengatakan jika dalam penghitungannya, tarif tersebut dihitung berdasarkan beberapa faktor, di mana di dalamnya terdapat unsur biaya pengoperasian kendaraan. Biaya ini dihitung dan dibandingkan jika kendaraan melewati jalan arteri (non-tol).

"Kalau kendaraan lewat Tol Soroja untuk menuju kota Bandung bisa hanya ditempuh dengan waktu sekitar 12 menit. Sementara kalau menggunakan jalan arteri menuju Soreang dari Bandung bisa memakan waktu sampai 1,5 jam,” kata Bagus kepada AyoBandung, Minggu (24/12/2017).

Bahkan, lanjut Bagus, jika berbicara penggunaan bahan bakar dengan waktu tempuh 1,5 jam atau sekitar 150 menit dengan kecepatan 80 atau 90 km/jam, kendaraan bisa diibaratkan telah menempuh jarak 130 kilometer. "Berarti bisa menghabiskan bensin cukup banyak juga kalau menggunakan jalur arteri. Belum termakan kemacetannya," ujarnya menjelaskan. 

Hal inilah yang digunakan pihaknya sebagai dasar penghitungan tarif tol, yakni disparitas biaya operasional antara penggunaan kendaraan di jalan tol serta jalan non tol (jalur reguler). 

Selain itu, yang menjadi pertimbangan dalam menetapkan tarif ini adalah biaya investasi yang cukup besar, juga proyeksi keuntungan dari investasi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang telah dikeluarkan.

"Memang secara hitungan kami harga itu wajar. Ini juga termasuk upaya investasi kami. Kami punya investasi 1,7 triliun pinjaman dengan bank. Kalau misal tarif cuman Rp 30.000 – Rp 40.000 per keluar-masuk, itu juga akan membebani kami. Bahkan dengan Rp 7000, pengembalian modal bisa cukup lama juga," papar Bagus. 

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait