web analytics
Top banner bank bjb
Sepatu Brodo, dari Zero to Hero
Oleh Anggun Nindita Kenanga Putri, pada 09 Dec, 2017 | 16:12 WIB
Sepatu Brodo, dari Zero to Hero
Koleksi sepatu Brodo. (Anggun Nindita/AyoBandung).

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Para kaum adam, apakah pernah merasakan susahnya cari sepatu? Jika iya, pengalaman ini hampir sama dengan yang pernah dialami oleh Muhammad Yukka Harlanda dan Putera Dwi Karunia, yang saat tahun 2010 lalu kesulitan mencari sepatu untuk acara wisuda.

Mungkin kalau mencari sepatu sneakers atau sepatu sehari-hari tidak akan terlalu ribet. Tapi kala itu kedua mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung ini sedang membutuhkan sepatu formal yang akan dipakainya untuk acara wisuda. Seringkali sepatu formal yang ada di pasaran model atau ukurannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kalaupun ada, itu pun dari merek luar negeri yang harganya pasti akan menguras kantong.

Akhirnya dengan pertimbangan itulah kedua pemuda ini memutar otak untuk memproduksi sendiri sepatunya. Dimulai hanya memproduksi untuk kebutuhan dirinya kemudian mereka memutuskan untuk memasarkan juga produk sepatunya yang diberi label Brodo.

Penamaan Brodo sendiri diambil dari bahasa Italia yang artinya “kuah kaldu ayam”. Nah lantas apa hubungannya kaldu ayam dengan sepasang sepatu?

Menurut Harifandi, Event Sponsorship dan Social Media Officer Brodo, ini berawal ketika sang pemilik, Yukka membaca sebuah komik dari Italia yang berjudul Bambino. Secara tak sengaja ia menemukan kata “Brodo” tersebut.

“Brodo itu kan artinya kuah kaldu ayam. Setiap masakan di Italia kalau enggak ada kuah kaldu ayam jadi rasanya enggak akan enak. Nah Brodo juga ingin punya citarasa tersendiri sebagai sebuah label sepatu yang membedakan dengan merek yang lain,” katanya.

Keunikan Alas Kaki Brodo yang Mengusung Budaya Indonesia

Brodo memiliki tagline “We Have a Bright Future”. Yang menunjukan bahwa masa depan kini ada di tangan para anak muda. Tak heran bila seluruh karyawannya juga berasal dari kalangan muda yang potensial untuk menghasilkan ide-ide baru.

Tapi Brodo sebagai produk asli dari Indonesia juga tetap mengusung budaya khas Indonesia.

“Kalau dilihat secara fisik memang tidak jauh beda dari kebanyakan sepatu lainnya. Tapi kami memiliki keunikan dari sol sepatunya,” ucap pria yang akrab disapa Fandi.

Brodo mengembangkan sendiri desain sepatunya dengan memasukan motif batik khas Indonesia. Yang terpilih adalah motif batik Parang. Selain batik Parang, Brodo juga memasukan peta Indonesia, di alas sol sepatunya.

Menurut Agam Hanafiah, Desainer Produk Brodo, hal ini sebagai filosofi dari Brodo yang merupakan produk asli Indonesia yang juga mencintai budaya asli negeri ini.

“Karena kita perlu identitas sebagai produk asli Indonesia. Di awal-awal tahun 2012 desain produk kita masih belum punya identitas. Kita dari Indonesia, jadi harus bangga untuk menunjukan ragam desain hias khas Tanah Air,” ujar Agam.

Meski memiliki keunikan yang menonjolkan khas Indonesia, tapi bentuknya juga tetap harus mengikuti fungsi asli dari produk itu dengan tetap mempertimbangkan tingkat ketinggian atau depth-nya, juga untuk detail sepatunya sendiri.

“Akhirnya fungsi sol itu untuk napak (sepatunya). Jadi kami cari motif yang bisa fungsional ,” tuturnya.

Brodo juga memanfaatkan dari kerajinan lokal dari para pengrajin dari sejumlah wilayah di Jawa Barat, seperti Cianjur, Garut, dan Jatinangor. Menurut Fandi kini kurang lebih Brodo sudah memiliki 100 lebih karyawan dan beberapa store di seluruh Indonesia.

“Selain di Bandung ada juga store di Kemang, Bekasi, Kuningan City, Surabaya, dan Yogyakarta,” ungkapnya.

Produk Brodo memiliki segmen untuk pria yang merupakan first jobber, di rentang usia 23-30 tahun ke ats. Sepatu dari Brodo mengkhususkan pada sepatu-sepatu formal. Selain sepatu formal, sepatu Brodo juga terkenal akan sepatu bootsnya yang memiliki kualitas yang baik.

Tak heran beberapa publik figur pun kepincut dengan sepatu dari Brodo. Mulai dari atlet PSSI seperti Hansamu Yama dan Bambang Pamungkas. Sampai pemain-pemain basket dari tim Siliwangi Bandung dan Garuda Bandung.

Bukan cuma di Indonesia saja, produk Brodo juga sudah dikenal hingga keluar negeri, mulai dari Australia, negara-negara di Timur Tengah, bahkan sampai ke Amerika.

Untuk bisa memiliki sepasang sepatu dari Brodo dengan kualitas yang mumpuni, konsumen bisa mendapatkannya mulai dari harga Rp500.000.

Strategi Jejaring Konsumen lewat Online

Awal berjalan bisnisnya, Yukka dan Putera mengenalkan produk Brodo kepada para konsumen lewat media Facebook dan Blackberry Messenger yang saat itu memang banyak dipakai oleh masyarakat sebagai pilihan utama untuk berkomunikasi secara online.

Mereka mengiklankan produk Brodo di Facebook yang menurut Fandi responnya juga sangat positif. Di BBM Messenger, Yukka dan Putera juga seringkali berinteraksi dengan para konsumennya.

“Jadi kalau ada konsumen yang ganti profile picturedengan menggunakan produk Brodo. Langsung akan mendapatkan respon dari kedua owner tersebut,” ujarnya.

Memasuki era digital, Brodo mulai mengembangkan lagi strategi penjualannya lewat website di sekitar tahun 2013. Untuk memaksimalkan layanan costumer service nya, Brodo juga melayani konsumennya lewat website maupun sosial media. Para konsumen yang memiliki masukan ataupun keluhan bisa juga mengirimkan emailnya.

Brodo juga menyediakan fitur refundrepair, dan free return tanpa batas waktu. Sistem ini khususnya membuat bagaimana para konsumen puas dan terus percaya pada kualitas Brodo.Ke depannya Brodo akan terus berinovasi dan tetap mementingkan kepuasan layanan untuk konsumen setianya.

“Selain mengembangkan kualitas Brodo, kami juga ingin menyampaikan pesan semangat dan mandiri harus diinisiasi oleh generasi muda lewat Brodo,” pungkas Fandi.

Editor: Andres Fatubun

Middle banner pos
Artikel Terkait