web analytics
Top banner bank bjb
Mengetuk Pintu Ahmadiyah Bandung
pada 14 Aug, 2017 | 12:20 WIB
Mengetuk Pintu Ahmadiyah Bandung
Ilustrasi Jemaah Ahmadiyah Indonesia. (AyoMedia/Satrio Iman)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Segan, takut, dan ragu. Tiga rasa yang bercampur baur kala aku menginjakkan kaki di rumah ibadah itu. Sempat menolak untuk bertandang. Tapi gerbang menyapa dengan senyum para jemaah, yang kemudian membuat diri sedikit terlarut.

Wajar. Karena aku, seperti masyarakat pada umumnya, yang terpengaruh stigma umum tentang Jemaah Ahmadiyah Indonesia alias JAI.

Sesaat sebelum memasuki Masjid Mubarak di bilangan Jalan Pahlawan, Bandung, aku sempatkan diri untuk menengok sekeliling. Di sebelah kanan masjid, ada plang bertuliskan nama dan alamat Masjid Mubarak. Di atasnya tertulis kalimat syahadat “Ashadu anla ilaha ilallah, wa ashadu anna muhammada rasulullah.” Tak seperti ucapan luar yang katanya ada penambahan kalimat syahadat dalam ajaran Ahmadiyah.

Kembali aku meyakinkan diri bahwa mereka bukan kelompok yang harus diasingkan.

Aku lalu masuk dan segera mengambil air wudhu. Pergi ke lantai dua, turut memenuhi deretan saf yang masih kosong. Detik demi detik berlalu. Khotib menaiki mimbar dan mengucap salam, disusul azan yang berkumandang, pertanda ibadah Jum’at hendaknya dimulai. Sama sekali tak ada yang asing di di ingatanku.

Lalu khotib berdiri, membuka khotbah Jum’at dengan doa yang dilanjut ceramah soal iman dan takwa. Dilanjut salat dua rakaat, ditutup dua kali salam ke kanan dan ke kiri. Dan sekali lagi, tak ada yang asing.

Hari Jumat pada medio Juli lalu itu, kaum adam menjalankan ibadahnya di Masjid Mubarak. Tak peduli penganut Ahmadiyah atau bukan, mereka menjalankan ibadah Jum’at bersama.

“Masjid ini bebas untuk siapapun yang masuk. Tidak khusus untuk jemaah (anggota JAI). Kan masjid itu rumah Allah ta’ala,” ujar Pimpinan Mubaligh Ahmadiyah Jawa Barat, Hafidz Danang Prasetyo, yang kala itu mengisi khotbah Jum’at.

Perkenalanku dengan Hafidz tidak ujuk-ujuk. Gara-garanya seorang jemaah yang kutemui di ruang Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Mubarak, yang meraih tanganku dengan ramahnya, yang kemudian memperkenalkanku dengan Hafidz.

Masjid Mubarak sendiri dibangun jemaah Ahmadiyah pada tahun 1999 silam. Tepat satu tahun setelah reformasi. Tak ada yang berbeda dari kegiatan di Masjid Mubarak dengan masjid-masjid yang lain. Sebab siapapun bisa masuk ke dalamnya, termasuk mereka, warga di luar Ahmadiyah.

Di bulan Ramadan kemarin misalnya, Masjid Mubarak mengawali kegiatannya dengan bebersih masjid. Dilanjut buka puasa bersama, aktivitas salat Tarawih, dan pengajian serta ceramah-ceramah pada umumnya. Sampai menjelang akhir Ramadan, Masjid Mubarak menggelar kegiatan itikaf, dilanjut dengan pembagian zakat fitrah sampai pelaksanaan salat Idulfitri. Kesemuanya itu, diakui Hafidz, berjalan aman seperti biasanya. Adem ayem.

Namun, adem ayemnya kehidupan Komunitas Ahmadiyah di Bandung ini tidak muncul ujuk-ujuk. Nukilan-nukilan rentetan peristiwa jauh di belakang membuntutinya pelan-pelan.

***

Ada sentimen yang sangat jitu dalam rangka mempersempit ruang gerak Komunitas Ahmadiyah di Bandung pada tahun 1933 silam. Hati-hati berbicara dengan orang Ahmadiyah, nanti terhipnotis. Kira-kira begitu apa yang kerap disebutkan oleh warga Bandung anti-Ahmadiyah kala itu.

Sentimen itu tak muncul tiba-tiba, tapi merupakan ujung dari debat teologi antara Ahmadiyah dengan Persatuan Islam (Persis). Dimana debat itu juga bisa disebut sebagai awal mula kehadiran Ahmadiyah di Bandung.

Ramainya tabligh dengan dialog terbuka di antara masyarakat Bandung yang bersifat moderat membuat banyak warga yang akhirnya menaruh simpati pada Ahmadiyah. Dengan maksud memberikan stigma negatif pada Ahmadiyah, sentimen ‘nanti terhipnotis’ pun dilancarkan oleh warga yang menentang Ahmadiyah.

Untuk menjaga eksistensinya, Komunitas Ahmadiyah di Bandung mendirikan masjid untuk pertama kalinya di tahun 1948. Mulanya adalah Abdul Wahid atau yang biasa dipanggil Pa Wahid, seorang khalifah Ahmadiyah asal pulau seberang, Sumatera, yang kala itu menjabat Ketua Mubaligh Ahmadiyah. Ia membeli sepetak tanah di Jalan H. Sapari, Astana Anyar, yang kemudian lahan itu diwakafkannya untuk pembangunan masjid. Kebetulan, saat itu belum ada satupun tempat bagi umat Muslim di kawasan tersebut untuk beribadah. Masjid itu kemudian diberi nama Masjid An Nashir.

Dalam Pikiran Rakyat edisi 24 Agustus 2009, Ketua DKM Masjid An Nashir kala itu, Ayo Abdul Kudus bercerita jika Masjid An Nashir dibangun dengan swadaya masyarakat, utamanya kaum perempuan Ahmadiyah, pada 69 tahun silam. Berawal dari istri Pa Wahid yang menjual emasnya seharga Rp 1.200, hingga bahu membahu bersama dengan warga lainnya. Ya, tahun 1948 jadi saksi cikal bakal Komunitas Ahmadiyah di Bandung.

Perjalanan Komunitas Ahmadiyah di Kota Bandung setidaknya menemukan titik harmonis dalam kurun waktu hingga 1980-an. Tercatat, Bandung pernah empat kali menjadi tuan rumah dari gelaran rutin Ahmadiyah, Jalsah Salanah. Di tahun 1950, 1960, 1963, dan 1964. Sebagian besar digelar di Masjid An Nashir. Namun ketika dirasa penganut Ahmadiyah, khususnya di Bandung, kian bertambah, di tahun 1964, gelaran Jalsah Salanah mengambil lokasi di GOR Saparua, Bandung.

Keharmonisan itu berjalan seiring dengan semakin merebaknya Ahmadiyah di sekitaran Kota Bandung. Mulai dari Lembang, Soreang, hingga Cicalengka.

Namun dinamika politik di pusat kemudian berkembang. Bermula dari tahun 1980, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa sesat bagi Ahmadiyah Qadian yang di Indonesia menjelma sebagai Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Kemudian, fatwa itu ditegaskan kembali oleh fatwa anyar MUI tahun 2005 yang menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah, baik Qadian ataupun Lahore, sebagai keluar dari Islam. Dan, keluarnya fatwa-fatwa itu berujung pada Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri – Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung – tentang pelarangan penyebaran ajaran Ahmadiyah di tahun 2008.

Maka, gangguan mulai masuk. Mulai dari ancaman penyerangan masjid-masjid Ahmadiyah di Bandung pada tahun 2005, hingga penjagaan ketat Masjid Mubarak oleh aparat kepolisian di tahun 2008 sekira dua bulan lamanya. Dan masing-masing peristiwa itu rupanya terpengaruh oleh beleid-beleid yang ada, baik Fatwa MUI ataupun SKB 3 Menteri.

Setelah itu, aturan tentang Ahmadiyah yang tertuang dalam SKB 3 Menteri pun diterjemahkan oleh berbagai pemerintah daerah. Salah satunya yang dikeluarkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2011 yang diteken pada bulan Maret, satu bulan selepas Tragedi Cikeusik, Banten.

Kendati demikian, berbagai beleid pencekalan terhadap Ahmadiyah itu tak bikin jemaah undur diri dari kegiatan-kegiatan ibadahnya. “Selama dikeluarkan SKB dan Pergub, kegiatan kami tidak berubah. Kegiatan kami untuk bersujud pada Allah SWT tidak berubah,” tegas Hafidz.

Apa yang ditegaskan Hafidz memang betul adanya. Komunitas Ahmadiyah di Bandung tak gentar menghadapi berbagai keputusan pemerintah terhadap kaumnya, termasuk kegiatan mempersiapkan perayaan Idul Adha di Masjid An Nashir, yang lagi-lagi, berujung pada penyerangan terhadap Komunitas Ahmadiyah di tahun 2012 silam oleh Front Pembela Islam (FPI) Bandung. Dimulai dari aksi sweeping FPI di malam Idul Adha, yang mempertemukan mereka dengan kegiatan di Masjid An Nashir.

FPI, yang menjadikan SKB 3 Menteri dan Pergub Jabar soal Ahmadiyah sebagai dalil, tidak terima dengan adanya kegiatan persiapan Idul Adha di Masjid An Nashir. Negosiasi pun dilakukan oleh Polrestabes Bandung antara FPI dan jemaah Ahmadiyah. FPI memaksa Ahmadiyah untuk meneken pernyataan penghentian kegiatan Idul Adha. Namun, selayaknya umat yang mempertahankan akidahnya, permintaan itu pun ditolak.

Negosiasi belum rampung, FPI sudah naik pitam duluan. Mereka kembali ke Masjid An Nashir untuk melakukan penyerangan. Malam itu, 25 Oktober 2012 hampir dini hari, sejumlah massa FPI merangsek masuk ke gerbang Masjid An Nashir. Memecahkan lampu dan melempari kaca masjid dengan batu hingga rusak. “FPI mengancam bikin rusuh seperti di Cikeusik,” ujar salah seorang jemaah Ahmadiyah, MH, seperti dikutip dari Viva.

Hampir serupa dengan dinamika konflik Komunitas Ahmadiyah bertensi tinggi di berbagai penjuru Nusantara lainnya. Rata-rata, didorong oleh Tragedi Cikeusik, yang membantai tiga penganut Ahmadiyah di Pandeglang, Banten.

Namun bagi Hafidz, Tragedi Cikeusik enam tahun silam itu tak ubahnya bentuk jemaah Ahmadiyah dalam mempertahankan akidahnya. “Mengikuti sunnah Rasulullah bukan hanya makan dengan tiga jari dan jenggot saja. Dimaki-maki dan dibunuh juga sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Memang, kabar luar tak selalu harus digubris oleh jemaah. Menghuni bumi Nusantara sejak tahun 1924, jemaah Ahmadiyah tetap khidmat menjalankan setiap proses kehidupannya yang katanya penuh dengan cinta.

“Jika kita tidak bisa memberikan kedamaian di lingkungan terkecil, bagaimana kita bisa memberikan kedamaian di lingkungan besar? Jika tangan kita dipukul sakit, ya maka jangan pukul tangan orang lain,” tutup Hafidz.

Sejenak kemudian terfikir, pada nyatanya, mereka terasing lantaran stigma yang terbentuk tanpa telisik yang mendalam. Barangkali iya, jika dalam urusan keyakinan akan selalu ada perbedaan. Tapi menyimak mereka dalam satu-dua pertemuan, rupanya keterbukaan itu masih ada. 

(Asri Wuni/Ananda Firdaus)

AyoBaca : Denyut Jantung Ahmadiyah Sawangan

AyoBaca : Tak Ada yang Berbeda, Ibu-ibu Ahmadiyah Senang Arisan

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait