web analytics
Top banner bank bjb
Denyut Jantung Ahmadiyah Sawangan
Oleh Hengky Sulaksono, pada 10 Aug, 2017 | 12:12 WIB
Denyut Jantung Ahmadiyah Sawangan
Ilustrasi Ahmadiyah. (AyoMedia/Satrio Iman)

DEPOK, AYOBANDUNG.COM --

“Manusiawi saja, saya deg-degan, berdebar-debar.”

Fajar Sidiq ingat betul momen-momen menegangkan itu. Diam-diam, ia mengamati aksi dari jauh, di bawah pengamanan ratusan aparat bersenjata lengkap yang disiagakan di sepanjang Jalan Mochtar Raya, Sawangan, Depok. Kala itu, Jumat, 24 Februali lalu, ratusan massa berkumpul di depan Masjid Al Hidayah. Menuntut dihentikannya kegiatan jemaah, bahkan sampai mengancam bakal mengambil alih bangunan Masjid Al Hidayah, masjid milik Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Depok.

“Jumlahnya hampir seribu,” kata Fajar yang mengaku sempat mendapat delikan tajam dari demonstran yang mengenalinya. Padahal, saat itu ia kerap bergonta-ganti posisi amatan, menggunakan helm pula.

Dalam ingatan Fajar, peristiwa itu menjadi salah satu yang punya kesan besar. Momen yang bikin leher tercekik sekaligus meninggalkan bekas bagi Fajar. Diserbu ratusan massa yang membawa serta tuntutan serius bukanlah perkara kecil.

Ibarat orkestra musik, kehidupan komunitas Ahmadiyah di Depok punya dinamika. Membawa frekuensi denyut jantung yang silih berganti. Kehidupan dengan pola repetitif.

Untuk kesekian kalinya, jantung jemaah kembali berdegub kencang. Jemaah, lagi-lagi, kembali terusir dari rumah.

Dua bulan lalu, Juni 2017, Masjid Al Hidayah kembali disegel, tepat di saat jemaah tengah menjalankan ibadah shaum. Akibatnya, aktivitas keagamaan Ramadan hanya bisa berlangsung di pelataran masjid.  Tak main-main, penyegelan kali itu bahkan sampai menggunakan garis polisi. Rupanya ada pihak yang keberatan dan melaporkan penggunaan Masjid Al Hidayah kepada aparat.

Usut punya usut, penggunaan masjid dinilai melanggar hukum lantaran tak patuh terhadap segel yang dikeluarkan pemerintah sebelumnya. Sudah pasti, situasi makin genting.

Nukilan-nukilan peristiwa itu hanya apa yang tercatat setidaknya di tahun 2017 ini. Namun jauh di belakang itu, berbagai peristiwa lainnya tercatat dengan baik di kepala Fajar.

Fajar menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah momen-momen transisional tersebut. Ia lahir dan besar di Cianjur, memutuskan hijrah ke Sawangan, Depok, sejak 2011 untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Mahasiswa semester akhir Sastra Inggris ini menumpang di rumah sang kakak. Dan, Fajar merasakan betul naik turun gejolak ketegangan yang menghampiri komunitas Ahmadiyah Depok selama enam tahun ke belakang.

Bisa jadi, mulanya adalah Tragedi Cikeusik, Pandeglang, Banten. Tragedi kemanusiaan yang menarik perhatian dunia. Menewaskan tiga penghayat Ahmadiyah pada tahun 2011 silam dengan cara yang jauh dari konsep memanusiakan manusia.

Namun, siapa yang tahu jika sebelumnya, orkestrasi komunitas Ahmadiyah Depok pernah begitu riang, hangat, dan manis?

***

Narasi dimulai dari sepak bola, yang katanya bisa jadi pemersatu umat manusia. Tak peduli lakon-lakon yang terlibat di dalamnya punya latar belakang berbeda. Sepak bola, seolah punya kekuatan magis yang tak bisa dikalahkan.

Premis itu terbukti benar adanya, meski tak sepenuhnya. Beberapa tahun lalu, sepak bola menjadi salah satu unsur pemersatu komunitas Ahmadiyah di RT 3/RW 7, Kelurahan Sawangan Baru, Kecamatan Sawangan, Depok, dengan warga sekitarnya. Masa-masa itu masih membekas dalam ingatan Fajar, ia kerap menghabiskan waktu libur sekolah bersama bocah di sekitar kampung.

Sepetak lahan kosong yang terletak persis di samping kanan Masjid Al Hidayah menjadi saksi bisu keakraban Fajar dengan bocah sepantarannya. Tak ada syarat istimewa. Siapapun yang sanggup menggiring dan menendang bola, boleh ikut dalam permainan ini.

“Setiap libur sekolah saya pasti main bola sama anak-anak di sini,” kata Fajar mengenang. Segala rupa identitas cair di atas lapangan, tak ada Ahmadiyah ataupun Ahlussunnah. Yang ada hanyalah dua tim berisi bocah-bocah polos yang saling beradu cepat mencetak gol dan memenangkan pertandingan.

Tapi.. Tak lama dari situ, komunitas Ahmadiyah Depok sejenak menghela napas. Sebab, masa-masa emas keakraban Fajar bersama kawan-kawan sepantarannya mendadak berhenti.

Tragedi Cikeusik yang menewaskan tiga penghayat Ahmadiyah 2011 silam, berdampak luas pada kehidupan warga Ahmadiyah di seluruh penjuru Indonesia, termasuk di Sawangan.

Rentetan peristiwa yang mengubah wajah Ahmadiyah di Depok itu dimulai saat pertengahan Maret 2011. Kala itu, puluhan massa menggeruduk dan menyegel Masjid Al Hidayah. Peraturan Wali Kota Depok Nomor 9 Tahun 2011 tentang Larangan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Depok dijadikan dalih oleh massa.

Penyegelan tersebut merupakan yang pertama kali terjadi selepas terbitnya Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2008, serta Peraturan Gubernur Nomor 12 Tahun 2011, yang menjadi payung hukum pelarangan Wali Kota Depok terhadap kegiatan Ahmadiyah di wilayah kekuasaannya. Artinya, sekira tiga tahun selepas SKB Nomor 3 terbit.

Fakta ini terkesan janggal. Fajar menduga penyegelan  merupakan buntut dari Tragedi Cikeusik yang terjadi 6 Februari 2011. “Sebelumnya (2008) udah ada SKB, tapi kalem-kalem aja. Tapi setelah kejadian Cikeusik itu, baru dinamikanya mulai naik,” katanya. Kenyataannya warga Sawangan memang belum pernah bergeming sebelum Tragedi Cikeusik meletus.

Kecurigaan Fajar tak bisa dikesampingkan. Faktanya, Pergub Jabar dan Perwali Depok yang mengatur soal aktifitas Ahmadiyah sama-sama diteken pada bulan Maret 2011. Tiga tahun selepas SKB Nomor 3 terbit dan satu bulan setelah pembantaian di Cikeusik.

Dengan jalan putar sedemikian rupa, Tragedi Cikeusik nyatanya mempengaruhi konstelasi konflik di Sawangan. Melalui Perwali, Pemerintah Kota Depok memposisikan diri sebagai oposisi Ahmadiyah. Tak hanya melalui peraturan, keterlibatan pemerintah dibuktikan lebih jauh melalui praktik penyegelan, baik sementara ataupun permanen.

Sejak saat itu, tak pernah sekalipun Jemaah Ahmadiyah Depok membuka tanda segel pemerintah. Praktis, terhitung sejak tahun 2011 hingga 2015, kehidupan komunitas Ahmadiyah di Depok vakum. “Hampir enggak ada kegiatan. Hanya yang bersih-bersih sesekali. Listrik juga mati.” Antara ada dan tiada.

Tapi di balik nestapa itu ada kisah menggelitik sebenarnya. Letak masjid yang agak menjorok ke belakang dari pinggir jalan, serta keadaan masjid yang tak terurus, dimanfaatkan sekelumit oknum remaja nakal. Situasi serba gelap saat malam tiba membuat masjid digunakan untuk aktifitas yang tak semestinya. Dari mabuk-mabukan hingga memadu kasih, menjadi pengisi hari-hari kelabu di Al Hidayah. “Pernah kepergok sama warga sekitar,” kata Fajar.

Kocak sekaligus menyesakkan memang. Tapi, begitulah faktanya. “Udah gelap dipake hal-hal negatif. Seolah-olah pandangan (terhadap) kita tuh makin buruk aja. Padahal, bukan salah kita.”

Tak hanya pemanfaatkan lahan masjid sebagai tempat “mojok”, tapi gangguan juga datang dalam bentuk lain. Rentetan kejadian nyeleneh itu membuat jemaah Al Hidayah membangun dinding dan pagar di bagian depan masjid dari arah jalan. Di bagian samping, seng semi permanen dengan tinggi sekira dua meter memancang, memastikan tak ada lagi tangan-tangan jahil yang mengaku sebagai pemilik tanah.

Pemugaran kecil-kecilan ini berjalan beriringan dengan pembukaan segel yang dilakukan awal 2015 silam. Tahun tersebut dinilai menjadi momentum pas untuk kembali menyelenggarakan peribadahan di dalam masjid. Bertahtanya Joko Widodo selepas Pilpres 2014 sempat mengembuskan angin segar kepada sejumlah kelompok marjinal yang sempat sulit bergerak di bawah kekuasaan rezim lama. Tak terkecuali komunitas Ahmadiyah Depok, yang tak segan menitip mimpi di pundak Pak Presiden.

Sepanjang 2015, rutinitas keagamaan kembali hidup di Al Hidayah. Komunitas juga tak segan membaur dengan warga sekitar. Berbagai cara dilakukan untuk merehabilitasi hubungan dengan warga yang sempat regang lantaran tersekat stigma. Berbagai kegiatan sosial dan keagamaan meramaikan tahun tersebut. Dari mulai lomba Agustusan, bazar, hingga pembagian daging kurban dilakukan.

Berbagai aktifitas yang diorganisir jemaah Al Hidayah tentu mengundang simpati warga. Jarak warga dengan komunitas yang sempat menjauh, kembali mendekat. Tapi hubungan antara keduanya tak pernah konstan. Selalu mengembang dan mengempis. Bahkan sedari mula Al Hidayah berdiri.

Penuturan Fajar diamini kakak kandungnya, Yendra Budiana. Menurutnya, bukan hanya direstui keberadaannya sejak awal hadir, tapi sepak terjang komunitas Ahmadiyah bahkan mendapat apresiasi dari berbagai komunitas lain.

Sebelum 2008, kata Yendra, komunitas Ahmadiyah Depok pernah menggelar kegiatan bersama Gerakan Pemuda Ansor. Mereka juga pernah menghadiri undangan dari Pemerintah Kota Depok dalam sebuah kegiatan penghijauan. Di awal berdirinya Al Hidayah, masjid ini juga pernah menjadi tuan rumah kegiatan remaja masjid di Sawangan.

“Setelah itu hubungannya jadi menjauh. Itu sudah otomatis. Kebanyakan takut terstigma,” kata Yendra yang juga Ketua Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) Depok ini.

****

“Tanggapan apa maksudnya? Kayaknya kita udah enggak ada hubungan lagi, deh,” jawab Ibu Ubay ketika dimintai komentar soal hubungannya dengan komunitas Ahmadiyah. Bak menghadapi momok, Ibu Ubay rupanya agak enggan meladeni.

“Kebetulan saya tidak terlalu dekat. Walaupun dekat, ya dekat di mata tapi jauh di hati.” Begitu kata Ibu Ubay, seolah menghindar. “Artinya emang enggak pernah peduli.” Pengakuan itu sedikit mengejutkan. Seolah ada jarak jauh yang terbentang antara Ibu Ubay dan jemaah di Masjid Al Hidayah. Padahal, jarak rumahnya hanya sekira seratus meter saja.

Ketakpeduliannya itu tidak serta-merta meniadakan sikap Ibu Ubay. Ia tak mempersoalkan keberadaan komunitas Ahmadiyah yang berkegiatan di Masjid Al Hidayah. “Kalau saya, sih, sifatnya biarin aja selama dia enggak mengganggu, dan biasa aja. Enggak masalah kalau saya mah,” tuturnya. Lagipula, Ibu Ubay juga tidak pernah dibikin repot dengan aktifitas di Al Hidayah. “Kalau warga (lain) ada yang enggak setuju. Ya itulah mungkin ada persepsi-persepsi ini (Ahmadiyah) enggak bagus,” katanya.

Stigma itu nyatanya tak pernah benar-benar menjadi problem bagi di luar lingkungan Al Hidayah, terlebih dengan orang-orang yang sedari mula hapal latar belakang mereka. Hubungan interpersonal jemaah Ahmadiyah dengan individu di luar lingkungan masjid berjalan tanpa hambatan berarti. Identitas yang selama ini menjadi garis pembatas cenderung lebih cair saat memasuki ruang-ruang publik yang lebih jauh.

Tapi tetap saja. Jalinan hubungan antara komunitas Ahmadiyah dan warga sekitar nyatanya tak sesederhana yang terbayang. Siklusnya serupa dua biji bandul yang saling menjauh setelah beradu lengket. Sekali waktu, hubungan berlangsung adem ayem. Di waktu lain, saat massa atau aparat berseragam datang menyegel, warga kembali menjauh.

Seperti musik yang di dalam satu rangkaiannya menyimpan berbagai kemungkinan perubahan denyut jantung. Ketidakstabilan denyut jantung komunitas Ahmadiyah Depok menjadi satu-satunya fakta yang konstan.

Mau tak mau, perbedaan menjadi penyebab atas ketidakstabilan denyut jantung komunitas Ahmadiyah Depok. Dari sisi doktrin, Ahmadiyah dianggap berbeda dengan Ahlusunnah.

Ketua Program Studi Doktoral Perbandingan Agama Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Dadang  Kahmad menuturkan jika ada dua perspektif umum yang selalu hadir saat membaca posisi Mirza Gulam Ahmad. Kalangan Ahmadiyah mempercayai keberadaan sosok Nabi yang hadir selepas Muhammad. “Pada sosok MGA inilah iman penganut Ahmadiyah terepresentasi,” ujarnya. Sementara Ahlussunah percaya jika tidak ada Nabi lain selain Nabi Muhammad.

Perdebatan ini, seperti perdebatan-perdebatan pada umumnya, tentu saja berpangkal dari masalah tafsir makna, yakni tafsir gramatikal Khataman Nabiyyin, yang merupakan penggalan surat al Ahzab ayat 40. Ulama Ahlussunnah, menafsirkan khatam sebagai penutup. Nabi Muhammad diyakini sebagai penutup tradisi kenabian umat Islam.

Sementara bagi Ahmadiyah, khatam tidak ditafsirkan sebagai penutup. Melainkan bermakna cincin, yang mengandung makna derivatif lingkaran. Karena itu, kata Dadang, Nabi Muhammad diposisikan sebagai simpul (cincin kenabian). “Sehingga mereka meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad itu ada Nabi-Nabi lain, di antaranya adalah Mirza Gulam Ahmad,” ujarnya.

Perbedaan doktrinal memang selalu menyertai khazanah keilmuan agama. Namun, debat tafsir ini sesungguhnya tak eksklusif hadir dalam cakrawala agama-agama. Kebanyakan debat tafsir kerap menyulut perdebatan sengit.

Kenyataan itu tak disangkal oleh pengurus Masjid Al Hidayah, Abdul Gofur. Ia tak menginginkan pertentangan yang berada di level epistemologis ini terbawa dalam laku hidup sehari-hari.

Gofur, yang berasal dari Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan ini tak menyukai stigma negatif yang muncul akibat perbedaan belaka. “Kami adalah Islam. Nabinya pun Nabi Muhammad, syahadatnya sama, sama dengan yang lain,” katanya.

Dalam hati kecilnya, Gofur menyimpan keinginan agar keberadaan komunitas Ahmadiyah Depok bisa diterima warga sekitar. “Biarkan perbedaan itu memperkaya kita."

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait