web analytics
Top banner bank bjb
Tarif Listrik Indonesia Paling Mahal di Dunia. Benarkah?
pada Aug 07, 2017 | 05:49 WIB
Tarif Listrik Indonesia Paling Mahal di Dunia. Benarkah?
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Katanya, tarif listrik di Indonesia merupakan yang termahal di dunia. Namun, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membantah kabar tersebut.

“Saya rasa tidak. Malah harga listrik kita lebih rendah dari yang tertinggi di dunia,” ujar Sekretaris Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Agoes Triboesono, sebagaimana diwartakan ANTARA di Jakarta pada Senin (7/8/2017). Malah, tarif listrik di Indonesia, menurutnya, tercatat lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Agoes menjelaskan bahwa secara penawaran infrastruktur tenaga listrik, Indonesia lebih menarik dibandingkan dengan negara lainnya, misal di tingkat Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Selain itu, ia mengemukakan, pada saat ini kondisi internal Indonesia untuk pengembangan tenaga listrik dinilai lebih bagus daripada periode sebelumnya.

Jika ada penelitian tentang perbandingan harga listrik dan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tarif termahal, Agoes menilai penelitian tersebut kurang valid atau belum jelas variabel-variabel apa saja yang dilibatkan di dalamnya.

Harga jual listrik kepada masyarakat saat ini per Juli 2017 dibanderol kisaran Rp 1.352 per kWh dibandingkan dengan Desember 2016, harga per kWh adalah Rp 605. Apabila dibandingkan dengan Malaysia, maka Negeri Jiran tersebut memiliki harga jual listrik ke masyarakat senilai Rp 1.360 per kWh.

Dibandingkan dengan negara yang lebih maju, Agoes menilai bahwa tarif listrik di Amerika Serikat (AS) rata-rata senilai US$ 10,42 per kWh, sementara di Indonesia lebih murah 40 sen atau senilai US$ 10,2 per kWh.

Tarif dasar listrik non-subsidi di Indonesia per Agustus 2017 adalah Rp 1.467,28 per kWh, sedangkan untuk golongan 900 VA yang baru saja mengalami pencabutan subsidi berlaku tarif sedikit lebih rendah, yaitu Rp 1.352 per kWh. 

Source: Antara

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait