web analytics
Top banner bank bjb
Berpikir Random Disebut Juga Kreatif. Tapi Kapan Isi Otakmu Sangat Random?
Oleh Asri Wuni Wulandari, pada 05 Jun, 2017 | 11:29 WIB
Berpikir Random Disebut Juga Kreatif. Tapi Kapan Isi Otakmu Sangat Random?
Ilustrasi. (squarespace.com)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Sebagian besar dari kita pasti pernah muda. Tepatnya, muda dan melakukan hal-hal yang luar biasa acak meskipun tak terlalu penting, mencoba segala hal yang penting senang. Seperti memamerkan band-band asal Inggris dalam laman MySpace agar dikira seorang cutting edge, meniru gaya catchy Karen O atau berpura-pura eksentrik serupa Bjork. Bertanya tentang kapan serangga tidur, dan lain-lainnya yang tak terkira.

Ya, semua di atas sebenarnya merupakan pengalaman pribadi penulis di awal usia 20an-nya.

Nah, jika ada di antara kamu yang mendapati pengalaman serupa, mencoba atau meniru segala hal yang bersifat acak, tak perlu kuatir. Sebab, sesuatu yang random menerpa usia awal 20an adalah wajar.

Dalam penelitian yang diterbitkan April lalu di PLOS Computational Biology Journal, seorang matematikawan, Nicholas Gauvrit dan timnya dalam sebuah lembaga penelitian di Paris menemukan bahwa pemikiran acak yang lengkap dengan kemampuan seseorang mengambil keputusan dari sesuatu yang acak itu mencapai puncaknya pada usia 25 tahun. Kemudian kemampuan itu berangsur-angsur menurun selama beberapa dekade berikutnya. Dan, akan mengalami penurunan yang tajam di usia 60 tahun.

Dilansir dari NYMag, setelah menilai hampir 4.000 orang berusia 4 hingga 91 tahun, Gauvrit pun sampai pada kesimpulan. Peserta diinstruksikan untuk memprediksi hasil dari beberapa tugas tertentu – seperti membalik koin – yang hasilnya dipastikan akan acak. Peneliti mengamati bahwa semakin tua seseorang, semakin sulit bagi mereka untuk meniru proses acak tersebut. Sebagai gantinya, tebakan mereka akan mulai menyerupai pola daripada serangkaian tebakan. Rata-rata, peserta berusia 25 tahun itu paling mahir memberikan jawaban yang sangat random.

Menarik, tapi juga menimbulkan pertanyaan : Mengapa belajar secara random itu penting? Gauvrit dan rekan-rekannya berpendapat bahwa kemampuan untuk meniru proses acak adalah tugas mental yang sulit. Membutuhkan perhatian yang berkelanjutan dan terfokus. Di antara keterampilan kognitif yang sangat komplek dan lainnya. Dengan kata lain, jika jawabanmu benar-benar acak, maka berarti kamu berada di puncak permainanmu.

Yang, pada gilirannya, berarti bahwa kemampuan seseorang untuk menghasilkan ke-random-an dapat digunakan untuk membantu menentukan dasar fungsi kognitif.

Studi lain juga menunjukkan bahwa ke-random-an semacam ini juga terkait dengan kreativitas. Beberapa peneliti berpendapat bahwa keacakan adalah hal yang memungkinkan manusia untuk melakukan brainstorming dan memecahkan masalah. Manusia terkadang memang membutuhkan pemikiran yang orisinil. Dan menurut penelitian Gauvrit, usia 25 tahun lah saat yang paling memungkinkan.

Source: NYMag

Editor: Asri Wuni Wulandari

Middle banner pos
Artikel Terkait