Penguasa Dunia Bukan Gen Y, Tapi Gen C

  Rabu, 08 November 2017   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi. (Pinterest)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Dalam kurun waktu satu abad terakhir bumi telah dihuni oleh setidaknya enam generasi yang dikelompokan berdasarkan tahun kelahiran. Mereka adalah generasi tradisionalis, baby boomers, X, Y, Z dan alfa.

Pada akhirnya perbedaan tahun kelahiran memengaruhi ragam karakter, ekspektasi, preferensi hingga selera di setiap generasi. Tak ayal, setiap generasi akhirnya memiliki perbedaan tabiat yang turut menghadirkan pola adaptasi dan pendekatan yang juga berbeda.

Generasi tradisionalis, baby boomers dan X dinilai lebih menyukai pola interaksi manual tatap muka yang mengedepankan kedekatan persuasif serta menyentuh sisi emosional. 

Sementara gen Y, Z dan alfa lebih menggemari pola interaksi berbasis daring yang dapat memberikan solusi cepat secara instan. Wajar saja karena ketiga generasi tersebut tumbuh di tengah era globalisasi digital sehingga begitu dekat dengan perangkat teknologi dan sistem informasi serba terbuka.

Ketiga generasi, khususnya gen Y, memiliki perilaku unik dan cenderung konsumtif. Maka sebuah kesimpulan mengemuka jika gen Y atau lebih dikenal dengan sebutan milenial hadir sebagai penguasa ekonomi dunia yang memiliki potensi pasar luar biasa besar. 

Pasalnya di antara tiga generasi termuda, gen Y lahir sebagai angkatan tertua dengan kisaran usia antara 23 hingga 37 tahun. Artinya, kini gen Y tengah mendominasi populasi bumi. 

Kini jumlah populasi gen Y di bumi telah mencapai angka 1,8 miliar jiwa. Sementara di Indonesia keberadaan gen Y mencapai sepertiga dari populasi penduduk atau sekitar 85 juta jiwa.

Lantas apakah benar jika menyatakan bahwa gen Y adalah penguasa pasar ekonomi dunia? Jawabannya justru tidak. Pasalnya, seperti dikutip dari Financial Post, penguasa ekonomi dunia adalah gen C.

Siapakah gen C? Namanya begitu asing bahkan tidak mengikuti alur alphabet dari penamaan generasi. Karena seharusnya setelah gen alfa maka akan lahir gen B baru kemudian gen C. 

Namun nyatanya gen C tidak ditandai oleh usia dan tahun kelahiran. Siapapun bisa menjadi gen C karena objek tersebut merujuk pada pola perilaku dan aktivitas yang gemar menggunakan konten secara daring.

Menurut Brian Solis, seperti dikutip dari Forbes, jika gen C berarti connected consumer. Bahkan peneliti asal Australia bernama Dan Pakarz mengungkapkan makna yang lebih luas lagi dari pengertian huruf C, yakni content, connected, costomize, curiosity, cyborg, cyber dan cracker.

Artinya gen C lahir berkat perkembangan teknologi internet dengan memanfaatkan karunia perangkat digital. Pola perilaku yang pada akhirnya menjadi peluang besar dalam meningkatkatkan ekonomi dunia terutama melalui pasar digital.

Redaksi akan mengulas lebih dalam soal Generasi Z. Simak terus laporannya dari berbagai lini untuk memudahkan pembaca atau stakeholder lainnya memahami segala sesuatu mengenai Generasi Z hingga transisi ke Generasi Alfa.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar