Peringati HSN 2017, BPS Jabar: Tiga Hal Ini Penting untuk Jurnalis

  Senin, 25 September 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Salah satu pemaparan materi dari BPS oleh Seksi Statistik Keuangan & Harga Produsen, Marisa Kusuma Putri. (Eneng Reni/AyoBandung)

BANDUNG,  AYOBANDUNG.COM -- Bertepatan dengan peringatan Hari Statistik Nasional yang jatuh pada Selasa (26/9), Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat menggelar talkshow bertajuk "Jurnalis Cinta Data". Talkshow ini guna mengingatkan peran data dan tingkat akurasi penyampaian tafsir data dalam dunia jurnalistik atau media. 

Talkshow yang dihadiri berbagai perwakilan pers mahasiswa dan media, menghadirkan dua pemateri dari BPS. Pertama, Seksi Statistik Keuangan & Harga Produsen Marisa Kusuma Putri yang menjelaskan indikator-indikator makro ekonomi. Kedua, Seksi Statistik Kependudukan, Hendy H. S. yang menjelaskan indikator-indikator sosial.

Kepala BPS Jabar, Dody Herlando, menyebutkan selain untuk menjalin interaksi kebutuhan data antara media dengan BPS acara ini juga untuk meningkatkan komunikasi informasi data BPS menjadi lebih baik lagi kepada publik. 

Kegiatan yang mengangkat tajuk Semarak #CintaData ini juga digelar untuk mengupas bagaimana kerja bersama antara BPS dan jurnalis harus dilakukan.

Menurut Dody, khalayak mengira istilah data BPS ini selalu bermain dengan numerik ataupun informasi data pasti. Sehingga informasi data ini ditafsirkan dengan sudut pandang yang berbeda-beda oleh penggunanya.

"Bagi wartawan pun biasanya data ini selain digunakan untuk memantapkan eviden maupun bukti. Tetapi juga digunakan untuk memperkuat opini. Nah, di lain pihak pada sudut opini inilah yang sering kali bisa menjadi potensi untuk diskusi lebih lanjut," ungkap Dodi, dalam sambutan Talkshow 'Jurnalis Cinta Data'di Gedung BPS provinsi Jawa Barat, Senin (25/9/2017).

Sementara kelemahan data BPS, kata Dody, terkadang tersaji hanya berupa arsip informasi data saja. Sehingga potensi dari keterbatasan arsip data inilah yang kerap menjadi multitafsir. Lewat talkshow ini diharapkan bisa mengurangi frekuensi kesalahpahaman tentang makna data bagi para pencari berita. 

"Saya ingin mengingatkan bahwa #CintaData ini seharusnya saling menghebatkan semua stakeholder di sini. Baik BPS sebagai instansi kelembagaan pemerintah maupun para wartawan yang bergelut di dunia media atau publikasi," katanya. 

Selain itu, Dody mengungkapkan, akhir-akhir ini Indonesia banyak disuguhkan berita-berita yang berlatar belakang informasi tidak jelas termasuk hoax. Hal itu tentu akan membuat informasi menjadi kacau. 

Oleh karenanya, Dody menyarankan supaya para wartawan memiliki stategi tertentu untuk menghindari ketidakjelasan tersebut. Ia kemudian membagikan tipsnya yang ia sebut strategi PCC. 

"Bukan PCC yang obat itu ya, tapi P Pilih berita, C-nya itu Cek & recheck, dan C yang terahir itu Cerah atau mencerahkan. Jangan beritanya itu sudah cek & ricek malah menyusahkan, kalau bisa mencerahkan atau menunjukkan," katanya.

Ia menambahkan data yang dimiliki BPS sepatutnya dimanfaatkan pewarta untuk membuat berita yang objektif. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar