Sepatu Ramah Lingkungan Ini Bernama Pijakbumi

  Jumat, 18 Agustus 2017   Anggun Nindita Kenanga Putri
Rowland Asfales memamerkan produk sepatu Pijakbumi di Brew and Chew Coffee, Bandung, Jumat (18/8/2017). (AyoBandung/Anggun Nindita)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Pernahkah terbayang oleh kita jika suatu kesialan yang kita alami malah akan menjadi sebuah ide dalam mengembangkan bisnis?

Hal itu lah yang dialami oleh Rowland Asfales. Beberapa tahun yang lalu, saat dirinya masih berstatus mahasiswa di Institut Teknologi Bandung, ia mengalami kesialan saat masih ngekos di daerah Tamansari. Sepatunya hilang dicuri.

“Saat itu bingung, karena enggak punya sepatu lagi. Mau beli baru tapi mahal dan karena masih mahasiswa jadi saya kala itu juga enggak punya uang,” ujarnya saat ditemui AyoBandung di Brew and Chew Coffee, Bandung, Jumat (18/8/2017).

Akhirnya Rowland memutuskan untuk pergi ke Cibaduyut dan membuat sendiri sepatu di sana. Hasilnya ternyata tidak mengecewakan. Malah beberapa temannya pun kepincut dengan sepatu bikinannya itu.

“Saya tawarkan pada teman-teman saya, enggak disangka banyak yang suka. Akhirnya saya tawarkan kepada mereka dan hasilnya dari mereka memang banyak yang berminat,” kenang Rowland.

Dari iseng menawar-nawarkan pada teman-temannya dalam skala kecil, Rowland akhirnya berpikir untuk mengembangkan lagi sayap bisnisnya. Pijakbumi adalah nama yang dipilihnya untuk produk sepatunya tersebut.

Disinggung soal pemilihan nama Pijakbumi, ternyata nama itu keluar begitu saja saat dirinya sedang merasa stres dan butuh untuk menetralkan perasaan. “Saat kita stres kan biasanya kita harus punya me time untuk menetralkan pikiran dan perasaan. Nah kebiasaan saya kalau sedang stres adalah jalan-jalan tanpa alas kaki yang artinya langsung memijak bumi. Itu lah pertama kali keluar ide nama Pijakbumi,” beber Rowland.

Keunggulan dari sepatu Pijakbumi sendiri adalah bahwa sepatu Pijakbumi ini menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Bahan bakunya adalah kenaf, yang pohonnya sendiri menghasilkan 80% oksigen lebih banyak. Selain itu, Rowland memilih untuk tidak menggunakan mesin saat menenun kenaf. Tapi menggunakan alat tenun bukan mesin alias ATBM.

 “Sepatu Pijakbumi tidak memakai bahan kimia dan asli produk lokal. Untuk cara pembuatannya juga kami tidak menjahitnya pakai mesin, tapi masih dengan cara konvensional. Justru di situlah yang menandakan bahwa sepatu Pijakbumi sangatlah ramah lingkungan,” beber Rowland lagi-lagi.

Sudah tiga tahun dipasarkan, Rowland memang ingin sepatu Pijakbumi ini menjadi produk lokal yang go to global atau bisa diterima di pasar internasional. Rasanya harapan itu terkabul. Sebab setiap sekali dalam satu bulan pasti ada saja pesanan dari luar negeri. Produknya sudah sampai ke Spanyol, Jerman, Kanada, Swis, Australia, bahkan sampai Nigeria. Untuk pasar Asia sendiri, produk sepatu Pijakbumi bahkan sudah punya namanya di Singapura dan Malaysia.

Dibanderol dengan harga mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 1.2 juta, sepatu Pijakbumi dihadirkan secara unisex atau bisa dipakai baik untuk laki-laki atau wanita. Tapi tenang saja, sepatu Pijakbumi pun menyediakan layanan prodak yang custom.

Ke depannya, Rowland punya misi agar sepatu Pijakbumi menjadi salah satu produk yang membanggakan dari anak muda bangsa. Dengan diperkenalkannya sepatu Pijakbumi, dirinya juga mengajak masyarakat untuk lebih menanamkan gaya hidup sehat dan lebih ramah lingkungan.

“Gaya hidup ramah lingkungan itu harus dimulai dari diri sendiri. Dan kita sebagai anak muda harus lebih banyak mensosialisasikannya. Sepatu Pijakbumi memang menjadi salah satu cara untuk mensosialisikan itu,” tutup Rowland.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar